Fasilitas Pengairan Kerinci Masih Minim dan Terbangkalai, Ujian bagi Kabid SDA Dinas PUPR Kerinci, Mampukah?
Masyarakat menilai setiap program harus mengutamakan asas manfaat. Selain itu, dinas terkait perlu memastikan ketersediaan sumber air, kebutuhan warga, serta ketepatan perencanaan teknis sebelum menentukan lokasi pembangunan.
Andi, salah seorang warga Kerinci, berharap Bidang SDA Dinas PUPR turun langsung ke lapangan sebelum menyusun program pembangunan irigasi di desa-desa.
Menurutnya, survei lapangan penting agar anggaran pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, terutama petani yang bergantung pada jaringan pengairan.
“Jangan sampai asal dialokasikan. Irigasi ada, tetapi sumber air tidak ada,” ujar Andi.
Ia berharap dinas terkait memprioritaskan lokasi yang membutuhkan perbaikan pengairan dan memiliki potensi pemanfaatan yang jelas.
Sorotan tersebut juga mengarah pada kinerja Yalpani selaku Kepala Bidang SDA Dinas PUPR Kerinci. Jabatan itu menuntut ketelitian dalam perencanaan teknis, termasuk penyusunan Detail Engineering Design (DED), serta pertimbangan kondisi lapangan sebelum menentukan program pembangunan.
Seorang pihak ketiga yang mengetahui pelaksanaan proyek di Kerinci turut berharap Yalpani menjalankan tugas secara profesional dan memastikan setiap proyek sesuai kebutuhan masyarakat.
“Kita berharap Pak Yalpani bisa profesional dan memastikan lokasi yang menjadi prioritas benar-benar tepat. Jangan sampai jaringan air yang baru dibangun cepat rusak atau justru tidak termanfaatkan,” ujarnya.
Masyarakat berharap Bidang SDA Dinas PUPR Kerinci tidak hanya mengejar realisasi pembangunan fisik. Sebaliknya, setiap proyek perlu mempertimbangkan ketersediaan air, kondisi jaringan, kebutuhan petani, dan keberlanjutan pemanfaatannya.
Dengan perencanaan yang matang serta pengawasan yang baik, anggaran pembangunan tahun 2026 diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kerinci, khususnya dalam mendukung kebutuhan pengairan dan produktivitas pertanian.(qhy)
